Search This Blog

11 March 2017

Anak rantau yang bijak dalam kejombloan

Menurutmu apa sih arti pacaran itu ? Apakah menurutmu pacaran hanya sebatas formalitas saja atau cuma sebatas memperlihatkan pada banyak orang kalau kamu ga sendiri. Pacaran menurutku tanpa komitmen hanya sebuah kesia-siaan.Jika pacaran hanya sekedar penemangat saja lebih baik orangtua kita minta untuk menyemangati kita. Menjalin hubungan harus punya tujuan mau dibawa kemana serta selanjutnya seperti apa. Jika hanya cuma bermain-main menghabiskan waktu tak berguna, buat apa menjalin hubungan. Berarti sama saja seperti daun yang terbawa diatas aliran air yang terhanyut tanpa tujuan yang tak pasti. Buat apa membuang-buang waktu percuma, cuma mengejar yang tak pasti. Saya sering melihat kemesraan dipaparkan dimedsos dengan bangganya. Seakan tak ada rasa malu lagi mengumbar didepan banyak orang yang memalukan.
Kalau anak rantau yang dalam kejombloan tidak mau mengejar formalitas menjalin hubungan. Kalau hanya mengejar formalitas lebih baik sendiri tidak menjadi bahan pikiran. Pacaran hanya menimbulkan masalah terutama dengan pikiran yang mumet. Banyak orang menjalani pacaran tanpa tahu apa arti sebuah hubungan. Menurut saya jika menjalin hubungan ada beberapa hal yang perlu diketahui yaitu :
1. Memahami yang dijalani
2. Jika siap menerima harus siap dengan resikonya
3. Belajar untuk bersabar dan memberi kasih sayang yang tulus
4.Jangan mencari yang sempurna
5. Yang terpenting punya komitmen

08 March 2017

pencari dolar yang mencari pengalaman

setelah sekian lama saya dikalimantan barat tepatnya disanggau dimana saya bekerja diperkebunan kelapa sawit milik PTPN salah satu perusahaan pemerintah BUMN. saya memutuskan pulang kampung kesibolga karena saya sakit-sakitan. Dengan keadaan itu saya pulang, bukannya ga tahan tapi karena yang memperhatikanku disana. Pernah suatu hari saat saya panen sawit, kan biasalah orang yang masih baru bekerja sebagai pemanen pasti masih lambat kerjanya. Bukan ngejar target sih, masalahnya pengen benar-benar ingin belajar. Hari itu mungkin hari kesialan, kenapa saya bilang seperti itu. waktu itu sudah tengah hari ,matahari udah diatas kepala, orang pun dah pada pulang.Tinggal saya yang melanjutkan kerja berharap makin banyak hasil yang saya kerjakan makin banyak pula rejekinya. Tapi apalah dikata harapan itu tinggal harapan. Ntah apa yang terjadi melepah sawit menimpah muka saya wakktu itu, saya kirain saat itu saya akan mati atau luka parah. Puji Tuhan  saya masih diberi keselamatan, padahal pelepah sawit  itu jatuhnya dari ketinggian kira-kira kurang lebih sekitar 15 meter. Tidak ada yang melihat kejadian  tersebut, sempat saya meringis kesakitan. Saya ga pernah menceritakan kejadian tersebut keorang, hanya saya yang tahu. Baru ini saya mempublikasikannya biar semua orang terinpirasi dengan kejadian itu.
Maka dari itu saya pulang dari sana , disana walaupun ga lama tetapi pengalaman sangat banyak saya dapatkan. Setelah saya pulang dari kalimantan barat , saya sempat nganggur disibolga luntang lantung ga jelas. Sampai ada temanku yang ngajak aku kepekanbaru untuk bekerja. Saya sangat berterimakasih kepada dia tapi saya juga sangat membencinya. Kenapa saya sangat, membencinya ada alasannya yang sangat kuat. Saya pikir dia itu teman ternyata tidak, dia tega membiarkanku luntang lantung dipekanbaru sendirian tanpa ada dipedulikan sama sekali. Awalnya dia ngajak aku merantau dengannya, saya pikir dia akan tanggung jawab atas ajakannya ternyata ga. Ceritanya gini waktu itu dia ngajak aku ikut dengannya merantau, terus saya iyakan donk karena saya sangat butuh kerja. Sudah bosan saya dirumah selama sebulan iya mau ga mau saya iyakan saja ikut. Sesampai dipekanbaru kami dijemput orangtua temanku,lalu pergi ke tempat kontrakan mereka. Yang saya bingung waktu itu sebelum kerja ikut sama mereka,ga ada mereka membicarakan kalau saya ikut bayar kontrakan. Saya fikir dulu kalau yang bayar kontrakan dari mereka. Tapi apa boleh buat aku juga yang salah ga nanya sama mereka tentang itu semua.
Yang saya sealkan bukan karena hal itu, yang saya sesalkan itu adalah mereka seakan tidak menganggapku apa-apa. Dulu saya kira mereka manusia yang bisa menghargai aku dengan menghargai mereka layaknya orangtuaku sendiri. Tetapi terbalik, ga sesuai dengan harapan yang selama ini yang saya harapkan. Selama bersama dengan mereka aku sangat makan hati ,sakit hati namun saya tahan karena tidak baik melawan apalagi sama orangtua. semakin lama mereka semakin menjadi , mereka semakin tidak menghargaiku.
Dulu ditempat kontrakan saya sering masak kalau sudah pulang kerja. Yang buat aku tersinggung waktu itu ketika aku pulang kerja duluan saya masak semuanya mulai dari nasi sampai lauk tapi setelah mereka pulang kerja bukannya dimakan yang saya masak. Justru mereka pergi kewarung untuk makan, dari sana saya sangat tersinggung dengan apa yang mereka lakukan.Ntah kenapa mereka berbuat seperti itu sama saya sampai sekarang saya bingung ga habis pikir gitu. Walaupun demikian saya ikhlas wakyu itu menghadapi yang terjadi yang menerpaku. 
Memang orang ini satu kampung dengan saya jadi tahu sifatnya seperti apa. Orang ini sering membuat sakit hati banyak orang sebelum mereka pindah kepekanbaru. 

bersambunggg.................................

05 March 2017

Beginilah cara anak rantau untuk menghilangkan rasa penat dan kerinduan orangtua

Tak banyak yang dilakukan anak rantau yang jauh dari kampung halaman. Sering penat melanda menggerogoti pikiran yang lelah, habis dari aktivitas. Biasanya yang dilakukan untuk menghibur diri yaitu bercengkerama bersama teman-teman. Kalau tidak mencari hiburan sendiri seperti melakukan kekoyolan. Apalagi zaman sekarang tekhnologi semakin maju. Yang sering dilakukan adalah yang disebut selfi, semuanya akan difoto sampai habis gaya.
Lucu memang kalau dipikir-pikir, tetapi itulah penghilang stres. Seorang anak rantau sering kesedihan menerpanya. Sesakit-sakitnya masalah yang dihadapinya tidak akan menceritakannya pada semua orang. Terkadang saya sendiri merasa aneh dirantau ini. Kenapa saya katakan demikian ? Bukannya apa atau gimana ya ! Memang sangat aneh, siapa sih orang yang tahan dan kuat menahan derita ? Tanpa ada tempat pengaduan, tidak ada tempat untuk mendapatkan mencurahkan isi hati yang dilanda kebingungan ! Tetapi anak rantau sanggup menghadapinya sendiri.
Pernahkah kita mendengar seorang anak rantau mengeluh dengan deritanya? Saya rasa tidak ada, kalau pun ada saya berani mengatakan kalau orang seperti itu manusia cengeng. 
Seperti saya contohnya bukannya saya merendahkan diri namun ini kenyataan selama saya merantau. Baru ini saya menceritakannya pada semua orang.
Saya sudah 10 tahun saya merantau di 4 provinsi yang berbeda. Dalam 10 tahun merantau baru 4 kali saya pulang kampung. Jika ditanya ko bisa begitu, mang ga kangen ma orangtua. Saya akan jawab sangat kangen, jangankan kangen kalau bisa pulang 2 kali dalam setahun namun itu tidak dapat diwujudkan dikarenakan kondisi dan keadaan ga memungkinkan.
Saya sudah pernah menceritakan awal mula saya merantau. Sekarang saya akan menceritakan  dimana saja saya pernah merantau :
1. Bandung
2. Dikalimantan barat
3.  Pekanbaru Riau
4. Jakarta
Dibandung saya merantau mulai tahun 2007 sampai 2009. Kehidupan saya selama dibandung sangat memprihatinkan juga. Awal saya tinggal dibandung saya tinggal bersama paman. Dulu pertama pekerjaan yang saya lakoni adalah sebagai kuli. Kuli bangunan itulah yang saya lakukan. Saya tidak pernah mengeluh dengan hal itu. Selama 6 bulan saya kerjakan apa yang bisa saya kerjakan. Yang saya sesali sampai saat ini waktu itu saya tidak digaji sama sekali. Bukan pemborongnya yang bohongin saya tapi pamanku sendiri yang membohonginya saya. Dulu saya ada niat untuk menabung untuk melanjutkan kuliah. Namun itu cita-cita pupus semua dikarenakan uangnya raip dibohongin paman sendiri. Dulu janjinya cuma menyimpannya jika suatu hari kalau dibutuhkan akan dikasihkan semua. Malah dibilang paman akan menambahkannya dengan menolong. Tetapi hanya angan belaka sampai sekarang tidak ada buktinya.
Jangankan uangnya, pamanku pun udah kekalimantan ga ada harapan lagi. Dari situ saya memutuskan bekerja di pabrik benang. Ditahun 2007 bulan 11 saya bekerja dipabrik. Gajinya memang kecil, saya beranggapan mencari pengalaman sembari belajar. Saya juga ga tahan pada akhirnya ditahun 2009 saya memutuskan untuk pergi kekalimantan barat. Saya beranggapan disana mengubah kehidupan. Disana saya tinggal bersama paman sampai pada akhirnya saya bekerja sebagai kuli bangunan juga. Disana ada dua pamanku, yang satu pekerjaannya adalah assistant manager di PT BUMN kelapa sawit. Dan yang satu lagi pemborong bangunan. Sebelum saya mendapat pekerjaan disana pamanku pemborong ini mengajakku bersamanya untuk membantunya. Saya digaji harian serta tiap gajian selalu dikasihkan full padaku. Pamanku yg satu ini orangnya baik sekali tapi sayang dia belum mendapat keturunan sampai sekarang. Saya bekerja bangunan sekitar 2 bulan sampai akhirnya pamanku pulang kampung kesibolga. Saya nganggur selama sebulan pada akhirnya saya pamanku assistant manager membawaku untuk bekerja ditempatnya bekerja.
Saya dulu berharap aku akan dipekerjakan sebagai apa gitu, tahunya aku dipekerjakan sebagai pembuat jalan rusak, membuat gorong-gorong dan sebagainya. Semua itu saya tidak mengeluh, dalam hati bersyukur dapat pekerjaan untuk melanjutkan hidup. Sulit memang situasi saat itu dan jika boleh jujur saya sangat sedih. Saya menyerah saat itu, saya 5 bulan bekerja dijalan sampai saya melihat orang yang panen sawit. Saya melihat sambil belajar pada akhirnya saya memutuskan untuk beralih pekerjaan jadi pemanen sawit. Kalau disana di sebut ngegrek sawit dengan memakai sabit gede. Sebulan saya belajar sendiri dengan tekad kuat untuk bertahan. Pelajaran sebulan saya sudah bergaji 1,5 juta dengan potongan koperasi bersihnya 800 ribu. 700 ribu potongan koperasi biasanya makan beli beras. Lambat lain saya mulai terbiasa dengan pekerjaan itu tapi sayang saya sakit-sakitan. Dadanya saya terasa sangat perih sehingga saya memutuskan untuk pulang kampung. Saya tahu kalau paman saya menguji saya seberapa giatnya saya bekerja. Maka dari pada itu saya sangat berterimakasih dengan semua itu

Bersambung..............

02 March 2017

Biarlah kisah hari ini menjadi pembelajaran dimasa besok

Kita tidak tahu kejadian apa yang akan datang terjadi menimpa. Bisa yang datang rezeki berarti hal yang baik, bisa juga hal yang tidak kita inginkan datang menerpa. Walaupun demikian semua itu harus kita syukuri dan mengambil hikmahnya. Diwaktu hari yang baik ,kita jangan lupa untuk bersyukur. Diwaktu hari tidak baik pun kita harus syukuri.
Jangan mau hanya mau menerima yang baik saja, ketika yang tidak menyenangkan ( cobaan) datang menghampiri malah bersungut-sungut. Itu mah namanya manusia yang tidak tahu bersyukur.
Biarlah kita semakin bisa belajar dari hari ke hari artinya kehidupan. Apalagi ditanah perantauan yang jauh dari perhatian orangtua.
Tetap berdoa agar selalu perlindungan Tuhan yang Maha Kuasa. Jangan pernah menunjukkan dirimu memiliki masalah. Sebab jika kita menunjukkan , kita punya masalah ! Dengan tidak disadari bahwa kita sudah menunjukkan ketidakmampuan kita.
Jangan pernah menunjukkan kelemahanmu pada semua orang, jangan pernah. Jika kita menunjukkan kelemahan kita maka kita akan dijengkal, orang akan gampangnya mengukur kita.
Mereka akan menganggap kita rendah tak ada artinya.
Didalam kehidupan ini kita harus faham serta mengerti apa itu hidup sesungguhnya. Seorang anak rantau harus bisa mengerti lingkungan yang ditempatinya. Harus kita ingat ya, kita ditanah rantau itu bagaikan debu yang dihembuskan angin. Kemana saja harus dapat menempatkan diri. Ingat, belajarlah dari segenggam pasir yang menggumpal dalam kepalan tangan. Pasir yang kita genggam dikepalan tangan kendalinya pada kita juga. Terkadang gumpalan pasir dalam genggaman musuhnya air. Jika sampai kena air maka pasir itu akan menghilang. Begitu juga hidup kita, kita yang harus bijak jangan sampai hilang.

Biarlah kisah hari ini yang kita alami menjadi pembelajaran dimasa yang akan datang. Memperbaiki diri yang penuh dengan kekurangan. Apalagi berjuang sendiri tanpa ada orang tempat pengaduan. Banyak-banyak belajar dari lingkungan, dari pekerjaan dari semuanyalah.
Sulit memang melakukannya serta menerapkannya dalam bersosialisasi. Mau tidak mau, suka tidak suka memang harus seperti itu dan harus diterima. Apalagi ditanah perantauan ini kerasnya kehidupan yang harus dijalani.
Jika direnungkan tidak mungkin bertahan dengan situasi ini. Tetapi itulah selalu ada jalan untuk terus tetap bertahan. Jadi mudah-mudahan kita selalu dalam perlindungan Tuhan "Amin".

01 March 2017

Tersenyumlah walaupun itu sangat sulit untuk dilakukan

Tak banyak yang harus dilakukan dikala kesedihan datang mendera.
Ada kalanya kita diam untuk merenung. Menenangkan diri sambil mencari solusi untuk menyelesaikan yang telah terjadi.
Ada kalanya juga kita harus bertindak dengan bersikap tegas , meski dianggap orang keras.
Dalam hidup ini kita harus tegas, tegas bukan berarti bringas atau sikap yang tak pantas. Tetapi tegas itu dalam arti bijak, bijak bersikap memberi solusi.
Disepanjang perjalanan ditanah orang (tempat perantauan) sudah terlalu banyak kutemui kegagalan demi kegagalan. Cobaan demi cobaan, namun saya terus melangkah sambil belajar untuk lebih baik lagi.
Dunia ini kejam, ya sangat kejam malah jika diperhatikannya dengan seksama. Apalagi orang yang merantau harus tahan banting, harus kuat seperti besi jangan loyo. Kalau loyo ya habislah jangankan hidup kalau tidak kuat menahan beban pasti mati.

Jangan mudah terpengaruh dengan lingkungan. Banyak yang hancur karena pengaruh lingkungan. Kita harus tahu diri, kita itu siapa? Jangan karena untuk menghargai teman kita mengorbankan segalanya. Kita harus bisa memilah mana yang mestinya dibantu mana yang tidak!.
Kita diberangkatkan orangtua keperawatan dengan doa yang tulus. Dengan tujuan kita lebih baik lagi dari mereka. Supaya kita memiliki pengetahuan yang lebih luas dari orangtua kita. Jika kita nodain dengan berperilaku tidak baik diperantauan, apakah orangtua kita senang? Apakah mereka akan bahagia mendengar itu? Mungkin tidak ,justru mereka akan sedih !

27 February 2017

KUAT MENGHADAPI KERASNYA KEHIDUPAN DIRANTAU

          Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat bertahan dengan kondisi dan situasi memilukan. Jika dipikir-pikir sangatlah tidak mungkin ada orang yang sanggup menjalani hidup penuh dengan kepedihan. Namun itu tidak berlaku buat anak rantau yang tinggal jauh dari tanah kelahiran. Ya ada yang beruntung menjadi sukses, ada yang tidak beruntung. Ada yang merantau diberangkatkan karena orangtuanya kaya.
Ada yang merantau karena ada sanak saudaranya yang ingin ditemui.
Ada yang merantau sama sekali tidak memiliki apa-apa.
Cuma karena penasaran dan ingin merasakan pengalaman berbeda.
Orang yang bertahan di perantauan bukan sok kuat atau sok jago.
Hidup merantau bukan soal bertahan atau gimana, tetapi bagaimana kita menghadapi hidup keras.
Ditempat rantau inilah kita diajari untuk mandiri serta diajari bagaimana menjalani hidup ini. Hati diuji agar tidak tergoda dari orang-orang jahat. Iman diuji agar kita tidak tergoda dengan bingar-bingar lingkungan. Kesabaran diuji agar tetap menjadi pribadi hebat.
Kita diasa menjadi orang-orang kuat di hadapan orang lain.
Kita harus sadar diri siapa diri kita sebenarnya. Kita merantau yang berarti kita adalah orang pendatang ( sebagai tamu). Jadi kita harus tahu meletakkan diri, merendahkan selalu jangan tinggi hati.
Merendah diri itu bukan berarti kita menjadi orang terendah. Bukan, tapi merendah diri itu adalah sifat orang yang bijak.
Dirantau lebih banyak tantangannya, bukan cuma bertetangga. Ditempat kerja pun sangat penuh dengan persaingan. Harus pintar-pintar menyesuaikan diri serta menempatkan diri.
Jangan merasa sombong dengan yang lain, jangan pernah menganggap orang lain lebih rendah darimu.
Anak rantau itu harus bisa bahu membahu bergotong royong membantu yang lain. Sebagai sesama perantau ga boleh saling mendahului, jangan saling membenci, jangan saling memojokkan, jangan iri, jangankan dengki dan sebagainya.
Ada beberapa nasihat orang tua mengatakan :
"Orang bodoh akan kepegadaian
Orang pintar akan menuju kesuksesan
Namun orang bijak selalu akan berguna bagi semua orang".
Jadi kita harus bisa seperti pohon yang tumbuh diatas tanah subur. Yang  berakar merambat keorang seperjuangan berdaun keatas memberi kehidupan.
Kita harus bisa seperti api dan air didia musim.
Ketika musim hujan tiba maka api dapat menghangatkan.
Ketika musim panas air dapat menyejukkan.
Mari kita sebagai anak rantau memberi contoh baik kepada yang lainnya, baik itu dilingkungan kita maupun disekitar kita.


19 February 2017

KISAH ANAK RANTAU YANG JAUH DARI ORANGTUA

    Dulu saya tidak pernah berfikir merantau itu sesakit ini. Harus berjuang sendiri tanpa ada kelurga satupun untuk mengadu dikala menderita. Sungguh miris memang jika dipikir-pikir, namun apa boleh dikata pahit ataupun manis harus dihadapi.
Berjuang sendiri dirantau itu tidak mudah, banyak yang harus dihadapi. Terutama mental harus kuat, tidak mudah menyerah, tidak mudah berputus asa, yang paling penting dirantau, jangan mudah terpengaruh dengan lingkungan.
Saya dulu sebelum menetap kerjanya yang sekarang, baru pertama menginjakkan kaki dibandung, Jawa barat ini, semua saya kerjakan. Mulai dari kuli bangunan tapi ga dibayar, cuma dikasih makan doank tetapi aku syukuri itu semua. Saya tidak mengeluh dengan hal itu, meskipun itu sangat menyakitkan.

Saya berusaha tegar menjalaninya tanpa mengeluh maupun uring-uringan. Mungkin orang-orang akan bertanya " apa sih yang kamu perjuangkan dirantau kalau kelaparan?". "Buat apa merantau tetapi sengsara !!". Menurut saya itu adalah pertanyaan bodoh. Dan saya tidak perlu untuk menanggapinya. Cuma hikmah pembelajaran kuambil jadi pedoman. Itulah yang membuatku kuat sampai hari ini.
Perjalanan hidup memang sulit, namun apakah aku harus meminta belas kasihan orang lain? Jadi kapan aku akan belajar dari itu semua? Mendapat pengalaman hidup itu sangatlah rumit. Ya mungkin ada yang gampang karena memiliki segalanya. Lah saya hanya orang yang ga punya, siap merantau harus siap juga dengan resikonya. Suka maupun duka harus siap menghadapinya.
Menangis dalam batin itu hal biasa jangan menunjukkannya pada semua orang. Cukuplah kita yang tahu masalah kita dengan selalu berpegang dalam doa.
Bersambung.........................

10 February 2017

KISAH ANAK RANTAU YANG JAUH DARI ORANGTUA

      Tidak lain lagi diantara kita sudah sering mendengarkan dengan istilah anak rantau atau bahasa halusnya orang yang pergi dari daerah lain merantau mencari pengalaman hidup. Sebenarnya bukan karena kemiskinan yang membuat seseorang pergi merantau. Tetapi lebih mencari suasana baru, agar bisa belajar mandiri. Sulit memang awalnya apalagi merantau tujuannya belum tahu apa-apa sama sekali. Antara dua pilihan tetap bertahan dengan niat kuat atau menyerah (putus asa). Banyak yang merantau modal nekat, bukan karena biar dibilang pemberani atau sok jago "bukan". Namun itulah yang harus dilakukan biar suatu hari nanti ada diceritakan kepada anak cucu bagaimana cara menghadapi hidup yang penuh liku-liku.



Seperti ini contohnya, ini semua anak rantau pencari jati diri. Membuat komunitas namanya Muda Mudi ARBAS kalau dipanjangin Anak Rantau Bandung Selatan karena kami tinggal dibandung. Kami semua dari berbagai kalangan menjadi satu. Kisah kami disinilah dimulai walau berbeda tetapi komunitas kami mengutamakan kekompakan, saling supourt, saling berbagi.
     Kami jauh dari seberang Sumatera Utara merantau berkelana kepulau Jawa yang beribu kilometer jaraknya. Disinilah kami mengasa diri, supaya mampu menghadapi masa depan. Tidak dipungkiri ada juga yang merantau memiliki sanak saudara , keluarga tapi banyak juga sebatang kara.
Unik sebenarnya anak rantau itu, suka duka yang dihadapi anak rantau itu tak ternilai harganya. Separah apapun cobaan serta ujian yang dihadapi selalu berusaha tersenyum. Menyembunyikan masalahnya, tidak mau terlalu memperlihatkan pada semua orang apa yang sedang dialaminya.
     Inspirasi yang paling penting bagi anak rantau adalah ketika dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Menangis ditempat tersembunyi tapi tersenyum ditempat terbuka, itulah yang sering dilakukan. Tidak mau terlalu merepotkan orang lain. Anak rantau itu kalau menurut saya hebat, kuat, lengkap semua lah yang ga dimiliki orang lain. Mana ada anak rantau yang malas bekerja? Kalau ada apa dia ga takut mati, ya kan !.
      Tidak ada istilah sakit ,enak ga enak harus berjuang sendiri. Apa-apa sendiri ,semua harus serba sendiri kalau single kecuali udah punya keluarga itu beda.
Dulu juga saya sebelum merantau, saya pikir merantau itu enak, santai dan sebagainya. Namun setelah saya pergi merantau semuanya berubah.
Awal saya merantau dulu karena melihat orang sekampungku pulang dari rantau. Saya bertanya dalam hati ,rasanya gimana sih gitu?.
Setelah tamat saya dari SMK kejuruan saya masih dikampung, kampung saya Mungkur kota Sibolga Tapanuli tengah. Saya belum pergi merantau, saya mencari duit dulu setahun dikampung untuk ongkos pergi merantau. Setelah setahun berakhir ,akhirnya saya bisa mewujudkan keinginan untuk pergi merantau.
       Bersambung..................