Search This Blog

05 March 2017

Beginilah cara anak rantau untuk menghilangkan rasa penat dan kerinduan orangtua

Tak banyak yang dilakukan anak rantau yang jauh dari kampung halaman. Sering penat melanda menggerogoti pikiran yang lelah, habis dari aktivitas. Biasanya yang dilakukan untuk menghibur diri yaitu bercengkerama bersama teman-teman. Kalau tidak mencari hiburan sendiri seperti melakukan kekoyolan. Apalagi zaman sekarang tekhnologi semakin maju. Yang sering dilakukan adalah yang disebut selfi, semuanya akan difoto sampai habis gaya.
Lucu memang kalau dipikir-pikir, tetapi itulah penghilang stres. Seorang anak rantau sering kesedihan menerpanya. Sesakit-sakitnya masalah yang dihadapinya tidak akan menceritakannya pada semua orang. Terkadang saya sendiri merasa aneh dirantau ini. Kenapa saya katakan demikian ? Bukannya apa atau gimana ya ! Memang sangat aneh, siapa sih orang yang tahan dan kuat menahan derita ? Tanpa ada tempat pengaduan, tidak ada tempat untuk mendapatkan mencurahkan isi hati yang dilanda kebingungan ! Tetapi anak rantau sanggup menghadapinya sendiri.
Pernahkah kita mendengar seorang anak rantau mengeluh dengan deritanya? Saya rasa tidak ada, kalau pun ada saya berani mengatakan kalau orang seperti itu manusia cengeng. 
Seperti saya contohnya bukannya saya merendahkan diri namun ini kenyataan selama saya merantau. Baru ini saya menceritakannya pada semua orang.
Saya sudah 10 tahun saya merantau di 4 provinsi yang berbeda. Dalam 10 tahun merantau baru 4 kali saya pulang kampung. Jika ditanya ko bisa begitu, mang ga kangen ma orangtua. Saya akan jawab sangat kangen, jangankan kangen kalau bisa pulang 2 kali dalam setahun namun itu tidak dapat diwujudkan dikarenakan kondisi dan keadaan ga memungkinkan.
Saya sudah pernah menceritakan awal mula saya merantau. Sekarang saya akan menceritakan  dimana saja saya pernah merantau :
1. Bandung
2. Dikalimantan barat
3.  Pekanbaru Riau
4. Jakarta
Dibandung saya merantau mulai tahun 2007 sampai 2009. Kehidupan saya selama dibandung sangat memprihatinkan juga. Awal saya tinggal dibandung saya tinggal bersama paman. Dulu pertama pekerjaan yang saya lakoni adalah sebagai kuli. Kuli bangunan itulah yang saya lakukan. Saya tidak pernah mengeluh dengan hal itu. Selama 6 bulan saya kerjakan apa yang bisa saya kerjakan. Yang saya sesali sampai saat ini waktu itu saya tidak digaji sama sekali. Bukan pemborongnya yang bohongin saya tapi pamanku sendiri yang membohonginya saya. Dulu saya ada niat untuk menabung untuk melanjutkan kuliah. Namun itu cita-cita pupus semua dikarenakan uangnya raip dibohongin paman sendiri. Dulu janjinya cuma menyimpannya jika suatu hari kalau dibutuhkan akan dikasihkan semua. Malah dibilang paman akan menambahkannya dengan menolong. Tetapi hanya angan belaka sampai sekarang tidak ada buktinya.
Jangankan uangnya, pamanku pun udah kekalimantan ga ada harapan lagi. Dari situ saya memutuskan bekerja di pabrik benang. Ditahun 2007 bulan 11 saya bekerja dipabrik. Gajinya memang kecil, saya beranggapan mencari pengalaman sembari belajar. Saya juga ga tahan pada akhirnya ditahun 2009 saya memutuskan untuk pergi kekalimantan barat. Saya beranggapan disana mengubah kehidupan. Disana saya tinggal bersama paman sampai pada akhirnya saya bekerja sebagai kuli bangunan juga. Disana ada dua pamanku, yang satu pekerjaannya adalah assistant manager di PT BUMN kelapa sawit. Dan yang satu lagi pemborong bangunan. Sebelum saya mendapat pekerjaan disana pamanku pemborong ini mengajakku bersamanya untuk membantunya. Saya digaji harian serta tiap gajian selalu dikasihkan full padaku. Pamanku yg satu ini orangnya baik sekali tapi sayang dia belum mendapat keturunan sampai sekarang. Saya bekerja bangunan sekitar 2 bulan sampai akhirnya pamanku pulang kampung kesibolga. Saya nganggur selama sebulan pada akhirnya saya pamanku assistant manager membawaku untuk bekerja ditempatnya bekerja.
Saya dulu berharap aku akan dipekerjakan sebagai apa gitu, tahunya aku dipekerjakan sebagai pembuat jalan rusak, membuat gorong-gorong dan sebagainya. Semua itu saya tidak mengeluh, dalam hati bersyukur dapat pekerjaan untuk melanjutkan hidup. Sulit memang situasi saat itu dan jika boleh jujur saya sangat sedih. Saya menyerah saat itu, saya 5 bulan bekerja dijalan sampai saya melihat orang yang panen sawit. Saya melihat sambil belajar pada akhirnya saya memutuskan untuk beralih pekerjaan jadi pemanen sawit. Kalau disana di sebut ngegrek sawit dengan memakai sabit gede. Sebulan saya belajar sendiri dengan tekad kuat untuk bertahan. Pelajaran sebulan saya sudah bergaji 1,5 juta dengan potongan koperasi bersihnya 800 ribu. 700 ribu potongan koperasi biasanya makan beli beras. Lambat lain saya mulai terbiasa dengan pekerjaan itu tapi sayang saya sakit-sakitan. Dadanya saya terasa sangat perih sehingga saya memutuskan untuk pulang kampung. Saya tahu kalau paman saya menguji saya seberapa giatnya saya bekerja. Maka dari pada itu saya sangat berterimakasih dengan semua itu

Bersambung..............

No comments:

Post a Comment