Search This Blog

27 February 2017

KUAT MENGHADAPI KERASNYA KEHIDUPAN DIRANTAU

          Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat bertahan dengan kondisi dan situasi memilukan. Jika dipikir-pikir sangatlah tidak mungkin ada orang yang sanggup menjalani hidup penuh dengan kepedihan. Namun itu tidak berlaku buat anak rantau yang tinggal jauh dari tanah kelahiran. Ya ada yang beruntung menjadi sukses, ada yang tidak beruntung. Ada yang merantau diberangkatkan karena orangtuanya kaya.
Ada yang merantau karena ada sanak saudaranya yang ingin ditemui.
Ada yang merantau sama sekali tidak memiliki apa-apa.
Cuma karena penasaran dan ingin merasakan pengalaman berbeda.
Orang yang bertahan di perantauan bukan sok kuat atau sok jago.
Hidup merantau bukan soal bertahan atau gimana, tetapi bagaimana kita menghadapi hidup keras.
Ditempat rantau inilah kita diajari untuk mandiri serta diajari bagaimana menjalani hidup ini. Hati diuji agar tidak tergoda dari orang-orang jahat. Iman diuji agar kita tidak tergoda dengan bingar-bingar lingkungan. Kesabaran diuji agar tetap menjadi pribadi hebat.
Kita diasa menjadi orang-orang kuat di hadapan orang lain.
Kita harus sadar diri siapa diri kita sebenarnya. Kita merantau yang berarti kita adalah orang pendatang ( sebagai tamu). Jadi kita harus tahu meletakkan diri, merendahkan selalu jangan tinggi hati.
Merendah diri itu bukan berarti kita menjadi orang terendah. Bukan, tapi merendah diri itu adalah sifat orang yang bijak.
Dirantau lebih banyak tantangannya, bukan cuma bertetangga. Ditempat kerja pun sangat penuh dengan persaingan. Harus pintar-pintar menyesuaikan diri serta menempatkan diri.
Jangan merasa sombong dengan yang lain, jangan pernah menganggap orang lain lebih rendah darimu.
Anak rantau itu harus bisa bahu membahu bergotong royong membantu yang lain. Sebagai sesama perantau ga boleh saling mendahului, jangan saling membenci, jangan saling memojokkan, jangan iri, jangankan dengki dan sebagainya.
Ada beberapa nasihat orang tua mengatakan :
"Orang bodoh akan kepegadaian
Orang pintar akan menuju kesuksesan
Namun orang bijak selalu akan berguna bagi semua orang".
Jadi kita harus bisa seperti pohon yang tumbuh diatas tanah subur. Yang  berakar merambat keorang seperjuangan berdaun keatas memberi kehidupan.
Kita harus bisa seperti api dan air didia musim.
Ketika musim hujan tiba maka api dapat menghangatkan.
Ketika musim panas air dapat menyejukkan.
Mari kita sebagai anak rantau memberi contoh baik kepada yang lainnya, baik itu dilingkungan kita maupun disekitar kita.


19 February 2017

KISAH ANAK RANTAU YANG JAUH DARI ORANGTUA

    Dulu saya tidak pernah berfikir merantau itu sesakit ini. Harus berjuang sendiri tanpa ada kelurga satupun untuk mengadu dikala menderita. Sungguh miris memang jika dipikir-pikir, namun apa boleh dikata pahit ataupun manis harus dihadapi.
Berjuang sendiri dirantau itu tidak mudah, banyak yang harus dihadapi. Terutama mental harus kuat, tidak mudah menyerah, tidak mudah berputus asa, yang paling penting dirantau, jangan mudah terpengaruh dengan lingkungan.
Saya dulu sebelum menetap kerjanya yang sekarang, baru pertama menginjakkan kaki dibandung, Jawa barat ini, semua saya kerjakan. Mulai dari kuli bangunan tapi ga dibayar, cuma dikasih makan doank tetapi aku syukuri itu semua. Saya tidak mengeluh dengan hal itu, meskipun itu sangat menyakitkan.

Saya berusaha tegar menjalaninya tanpa mengeluh maupun uring-uringan. Mungkin orang-orang akan bertanya " apa sih yang kamu perjuangkan dirantau kalau kelaparan?". "Buat apa merantau tetapi sengsara !!". Menurut saya itu adalah pertanyaan bodoh. Dan saya tidak perlu untuk menanggapinya. Cuma hikmah pembelajaran kuambil jadi pedoman. Itulah yang membuatku kuat sampai hari ini.
Perjalanan hidup memang sulit, namun apakah aku harus meminta belas kasihan orang lain? Jadi kapan aku akan belajar dari itu semua? Mendapat pengalaman hidup itu sangatlah rumit. Ya mungkin ada yang gampang karena memiliki segalanya. Lah saya hanya orang yang ga punya, siap merantau harus siap juga dengan resikonya. Suka maupun duka harus siap menghadapinya.
Menangis dalam batin itu hal biasa jangan menunjukkannya pada semua orang. Cukuplah kita yang tahu masalah kita dengan selalu berpegang dalam doa.
Bersambung.........................

10 February 2017

KISAH ANAK RANTAU YANG JAUH DARI ORANGTUA

      Tidak lain lagi diantara kita sudah sering mendengarkan dengan istilah anak rantau atau bahasa halusnya orang yang pergi dari daerah lain merantau mencari pengalaman hidup. Sebenarnya bukan karena kemiskinan yang membuat seseorang pergi merantau. Tetapi lebih mencari suasana baru, agar bisa belajar mandiri. Sulit memang awalnya apalagi merantau tujuannya belum tahu apa-apa sama sekali. Antara dua pilihan tetap bertahan dengan niat kuat atau menyerah (putus asa). Banyak yang merantau modal nekat, bukan karena biar dibilang pemberani atau sok jago "bukan". Namun itulah yang harus dilakukan biar suatu hari nanti ada diceritakan kepada anak cucu bagaimana cara menghadapi hidup yang penuh liku-liku.



Seperti ini contohnya, ini semua anak rantau pencari jati diri. Membuat komunitas namanya Muda Mudi ARBAS kalau dipanjangin Anak Rantau Bandung Selatan karena kami tinggal dibandung. Kami semua dari berbagai kalangan menjadi satu. Kisah kami disinilah dimulai walau berbeda tetapi komunitas kami mengutamakan kekompakan, saling supourt, saling berbagi.
     Kami jauh dari seberang Sumatera Utara merantau berkelana kepulau Jawa yang beribu kilometer jaraknya. Disinilah kami mengasa diri, supaya mampu menghadapi masa depan. Tidak dipungkiri ada juga yang merantau memiliki sanak saudara , keluarga tapi banyak juga sebatang kara.
Unik sebenarnya anak rantau itu, suka duka yang dihadapi anak rantau itu tak ternilai harganya. Separah apapun cobaan serta ujian yang dihadapi selalu berusaha tersenyum. Menyembunyikan masalahnya, tidak mau terlalu memperlihatkan pada semua orang apa yang sedang dialaminya.
     Inspirasi yang paling penting bagi anak rantau adalah ketika dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Menangis ditempat tersembunyi tapi tersenyum ditempat terbuka, itulah yang sering dilakukan. Tidak mau terlalu merepotkan orang lain. Anak rantau itu kalau menurut saya hebat, kuat, lengkap semua lah yang ga dimiliki orang lain. Mana ada anak rantau yang malas bekerja? Kalau ada apa dia ga takut mati, ya kan !.
      Tidak ada istilah sakit ,enak ga enak harus berjuang sendiri. Apa-apa sendiri ,semua harus serba sendiri kalau single kecuali udah punya keluarga itu beda.
Dulu juga saya sebelum merantau, saya pikir merantau itu enak, santai dan sebagainya. Namun setelah saya pergi merantau semuanya berubah.
Awal saya merantau dulu karena melihat orang sekampungku pulang dari rantau. Saya bertanya dalam hati ,rasanya gimana sih gitu?.
Setelah tamat saya dari SMK kejuruan saya masih dikampung, kampung saya Mungkur kota Sibolga Tapanuli tengah. Saya belum pergi merantau, saya mencari duit dulu setahun dikampung untuk ongkos pergi merantau. Setelah setahun berakhir ,akhirnya saya bisa mewujudkan keinginan untuk pergi merantau.
       Bersambung..................